Surat Cinta Anak Pesantren
Mungkin terdengar klasik. Kita
sudah hidup di zaman modern kan? Mengapa masih menggunakan surat untuk
menyapaikan sebait kata, sebaris rindu, dan menanyakan kabar. Aneh mungkin,
tapi itu yang terjadi pada kita.
Tidak seperti dua insan manusia
lainnya yang apabila jatuh cinta bisa setiap hari menanyakan kabar dan
menyampaikan rindunya melalui short message atau melalui pesan di akun sosial
media. Kita berbeda, tidak bisa sepeti itu. Mengapa? Karena di pesantren jangankan
membawa handphone, membawa laptop saja tidak diperbolehkan. Memang kita bisa
mengakses internet tapi hanya jika ada tugas atau ada mata pelajaran TIK.
Biasanya moment seperti itu dimanfaatkan anak pesantren untuk mengirim pesan
atau update status melalui akun facebook-nya. Lucu sekali.
Surat cinta. Bagi kami itu
istimewa. Tak banyak mungkin yang bisa beruntung mendapatkan surat cinta tanpa
hukuman. Itu yang membuatnya istimewa. Kamu harus melalui segerombol kakak
kedisiplinan yang akan siap menghukummu jika kamu tidak berhasil menyelipkan
surat cinta dengan baik tanpa sepengetahuan mereka. Tak jarang juga terkadang ada
razia kamar tiba-tiba untuk mencari benda bernamakan “surat cinta” biasanya tak
hanya itu, kadang juga mereka memeriksa benda lain yaitu handphone. Mungkin
terkesan melebih-lebihkan. Tapi, cobalah jadi kami, agar kalian bisa merasakan
betapa berharganya surat cinta itu.
Surat cinta. Mungkin terbesit di
benak kalian itu adalah surat yang berisi tentang pernyataan-pernyataan cinta.
Tapi nyatanya tidak selalu seperti itu. Surat itu kadang hanya sebuah sajak yang
diawali dengan salam dan hanya bertuliskan do’a. Bahkan terkadang tak ada kata
yang menunjukkan cinta sama sekali. Mungkin sang pengirim surat menggunakan
prinsip “cukup Allah yang tau seberapa bosan Dia mendengar namamu dalam
do’aku”. Tapi terkadang ada juga yang mengutip syair cinta pujangga
timur tengah dengan kata khas berbahasa arab atau syair Nabi untuk istrinya
atau juga puisi Kahlil Gibran yang terkenal dengan puisi cintanya. Ada juga
yang menuliskan pengingat untuk ibadah tapi terselip kata yang kadang membuat
kita tersenyum setiap hari tiada henti “Kamu boleh lupa sama aku. Tapi
jangan lupa sholat ya”.
Tak hanya isi suratnya saja yang
berkesan. Moment membacanya pun berkesan. Kebanyakan dari kami membacanya
berjama’ah alias bareng-bareng. Bahkan terkadang yang lebih dulu membaca
suratnya bukan yang di kirimi surat tapi teman sekamarnya. Lucu memang dan itu
berkesan bagi kami yang pernah merasakan ataupun menyaksikan dan ikut
membacakan.

Comments
Post a Comment