14 Februari



14 Februari


Awan terlihat menghitam, sehitam hati ku saat ini. Bagaimana tidak ? hari ini tanggal  14 Februari, hari ulang tahun ku yang ke-15. Tapi, tak ada kebahagiaan dihari ini. Nama ku Velin, Velina Febrianti. Orang tua ku memberikan nama itu karena Aku lahir pada hari Valentine, hari penuh kasih sayang. Tapi, mengapa kasih sayang itu serasa lenyap dari hidup ku ? Kemana perginya kasih sayang itu? Ayah, Ibu, Kemana kalian ? Aku tak menginginkan semua ini, semua kehidupan mewah ini. Aku hanya ingin bersama kalian, Aku sayang kalian.
Aku terdiam dalam keheningan malam, duduk di bawah rerumunan bintang. Ku mengingat tentang masa lalu, masa kecil ku yang begitu indah saat aku masih bersama mereka dan kembaran ku. Tapi sekarang ? Ibu ku sudah tiada.
Ibu ku meninggal 9 tahun yang lalu, saat usia ku dan kembaran ku masih 6 tahun. Aku tak mengerti sebab Ibuku meninggal. Yang Aku tahu hanyalah rumah sakit, rumah sakit tempat ibu meninggal. Aku masih kecil saat itu, jadi ku masih belum mengerti apa-apa.
Tiga tahun berlalu tanpa Ibu ku. Aku melalui hari-hari ku hanya dengan kembaran ku dan Ayah ku. Tapi belakangan ini sikap Ayah ku mulai berubah. Ayah sering sibuk dengan pekerjaannya, tak memperdulikan kami lagi. Dan sekarang Aku melalui semanya tanpa Ayah, hanya dengan kembaran ku saja. Karena Ayah sering lembur dan pulang malam, ketika kami sudah tertidur. Yah, hanya dengan kembaran ku. Namanya Valentina Febrianti, dia akrab di sapa dengan Valen.
Kami pernah mencoba menunggu Ayah pulang. Berjam-jam lamanya kami menunggu dan terus menunggu, tapi Ayah tak kunjung datang. Sekilas Aku menenggok jam dinding di ruang tamu, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Kami sudah terlalu mengantuk, ini sudah terlalarut malam. Kami pun memutuskan untuk tidur ke kamar.
Kami berjalan dengan mata sedikit terbuka, karna baterai mata kita cuma tinggal 10 watt. Kami membuka pintu kamar dan segera masuk untuk tidur. Tapi, rasa ingin tidur itu hilang seketika saat pintu rumah terdengar terbuka. Kami menebak siapa yang membuka pintu rumah. Ayah ? itu pasti Ayah. Kami langsung berlari menuju pintu rumah memastikan bahwa Ayah yang datang. Sesampainya di pintu depan, senyum kami yang tadinya mengembang berubah drastis menjadi senyum keterpaksaan.
Bukan Ayah yang datang. Melainkan Bi Ijah yang ingin keluar untuk mencari makan. Kami menanyakan ke Bi Ijah, kenapa Ayah belum pulang selarut ini ? ternyata Ayah pergi ke luar kota selama 1 Bulan untuk menyelesaikan proyek pembangunan gedung pencakar langit itu. Aku menyebutnya gedung pencakar langit, karena bangunan itu berdiri menjulang tinggi ke arah langit.
****
Sepulang sekolah, Kami berdua berncana menghampiri Ayah ke kantornya. Saat tiba di kantornya, Ayah mengajak kami makan ke sebuah restoran depan kantornya. Kami memesan segala makanan yang kami Inginkan. Namun saat makanan yang kami pesan tersedia di meja, Ayah pamit pergi setelah menerima telepon. Mungkin itu telepon dari rekan bisnisnya.
Kami kecewa, tetapi kami tak bisa berbuat apa-apa. Setelah makan kami pun memutuskan untuk pulang. Kami mencoba menghadang Taksi, dengan melambaikan tangan kami. Taksi pun berhenti tepat di depan kami. Kami pun pulang dengan kecewa. Tak ada senyum, tak ada bahagia ataupun keceriaan.
****
Buliaran bening mengalir di pipi ku. Aku tak sadar, ternyata aku menetekan air mata. Ku mencoba melihat bintang, dan pikiran ku mulai kembali ke hayalan masa lalu ku.
Hari ini hari ulang tahun kami yang ke-15. Kami hanya melalui malam ini bertiga dengan Bi Ijah. Kami memotong kue buatan Bi Ijah, sebenarnya potongan pertama ingin kami berikan ke Ayah. Tapi Ayah masih sibuk dengan pekerjaannya. Jam 11 malam Bibi mengajak kami ke taman, taman samping rumah. Bi Ijah sudah menyiapkan 5 batang Kembang Api di taman. Untuk dinyalakan tepat jam 12 malam nanti. Karena malam ini adalah malam terindah. Langit pun serasa bahaia saat ini. Ribuan bintang berhambuaran indah di atas sana.
“Coba aja Ayah ada di sini, pasti malam ini akan lebih menyenangkan” ucap Valen dengan nada sedih.
“Kamu ngak usah sedih. Pasti suatu hari nanti kita bisa kayak dulu lagi kok” ucap ku mencoba menenangkan Valen.
“Ya Allah, Aku ngak sanggup harus melihat Valen seperti ini. Cukup Aku saja yang merasakan pedihnya hidup kami saat ini” batin ku.
Aku mencoba tersenyum meskipun hati ku tak sanggup lagi untuk tersenyum. Bi Ijah mencoba menenangkan Valen. Mengeluarkan jurus komediannya untuk menghibur Valen.
Tiba-tiba terpikir di benak ku, tentang gendung tinggi milik Ayah ku. Mungkin di sana Aku dan Valen bisa bersenang-senang. Aku segera menghapus air mataku dan segera mengajak Valen ke kantor Ayah.
“Kamu jangan gila. Untuk apa kita ke sana ? untuk mencari Ayah ? Kalau Ayah tak ada bagaimana ? Lagian ini malam, aku takut ada penculik” Oceh Valen.
“Aku ingin menujukan mu sesuatu yang indah. Yang mungkin jarang kita lihat”
“Ya, baiklah. Aku akan turuti keinginan mu”
Kami pun segera menyuruh pak Kasim, sopir kami untuk mengatar kami. Tak lama kemudian kita sampai di tujuan.
“Untung saja kantornya ngak tutup” ucap ku
“Tutup ? emangnya warung pakai tutup segala” kata Valen
“Sudahlah, kamu diam saja. Aku tutup mata kamu yah ?”
Kali ini Valen tak banyak kometar, ia langsung mengangguk setuju. Yuupss.. Kita sudah sampai di tempat ini. Tempat yang indah. Indah sekali. Aku melepaskan ikatan penutup mata Valen. Ku tunjukkan padanya betapa indahnya pmandangan ini.
“Kamu gila ? ini di atas gedung kan ? kamu mau ngapain di sini ?” tanya Valen.
“Akan ku tunjukkan sesuatu yang indah. Coba kamu lihat di atas langit” kata ku.
“Tak ada sesuatu yang menakjubkan. Ini hanya pemandangan biasa. Di rumah kita juga bisa melihat ribuan bintang”
“Kamu diam saja. Ngak usah banyak omong”
Sebatang kembang api ku keluarkan dari rangselku. Aku menyalakannya. Aku pun menujukkan Valen betapa indahnya kota Bandung di malam hari. Aku menatap wajah Valen, melihat senyum keceriaan di bibir tipisnya itu. Aku bahagia jika Valen bahagia. Karna aku ngak akan tau, sampai berapa lama lagi Valen akan bertahan di dunia ini.
Ribuan kembang api itu perlahan menghilang. Kami pun segera turun dari gedung pecakar langit ini. Kami melangkah menuju pintu kantor ini, kami ingin segera keluar dari tempat ini dan tak sabar ingin menceritakan semuanya ke Bi Ijah. Aku mencoba membuka pintu kantor ini, tapi sayangnya pintu itu terkunci. Kami tak tau apa yang harus kami lakukan, terlebih lagi Aku. Karena Valen terlihat pucat, aku takut terjadi apa-apa dengan Valen.
Denyut jantung Valen tak beraturan dan nafasnya terengah-engah. Aku semakin cemas, Aku mencoba berteriak sekencang mungkin untuk meminta tolong. Kamu harus bertahan Valen, kamu harus bertahan. Aku pasti akan merasa bersalah sekali jika kamu kenapa-kenapa. Obat, iya obat. Aku mencari obat di Rangsel Valen. Obat yang selama ini membantu Valen untuk bisa bertahan hidup. Tetapi obat iu tak ku temukan sama sekali. Aku memeriksa sekali lagi tas rangsel Valen dan mengeluarkan semua isi rangsel itu. Ternyata memang benar-benar tak ada.
Aku mencoba menggedor-gedor pintu kaca itu. Aku yakin pak Kasim pasti masih menunggu di sini. Pak Kasim mencoba mencari bantuan untuk kami. Untunglah pemegang kunci kantor masih berada di pos keamanan. Tak lama kemudian kami pun bisa keluar dari tempat ini. Meskipun Valen sudah tak sadarkan diri.
Tanpa pikir panjang, pak Kasim langsung membawa Valen ke rumah sakit. Pak Kasim mencoba menghubungi Ayah dan mengabarkan tentang keadaan Valen saat ini.
****
Di sudut ruangan rumah sakit Aku termenung menyesali semua kesalahan ku. Kebodohan ku yang mungkin akan membunuh saudara ku. Ayah ku datang dengan tergesah gesah. Dia menghampiri ku. Dan hampir menamparku. Aku tau perasaan Ayah saat ini. Tapi mengapa harus aku yang di salahkan. Bukankah ini semua salah Ayah ? salah Ayah yang tak pernah mengerti kami.
Ayah mengusirku, menyuruh ku untuk pergi dari rumah sakit ini. Mungkin ia ta ingin melihat ku saat ini. Pergi dari rumah sakit ini. Mungkin itu yang terbaik. Ku langkahkan kaki ku meskipun sangat berat sekali bagiku meninggalkan Valen.
Buliran bening air mataku mengalir deras di pipiku. Tak bisa ku tahan perih di hati ini. Ingin ku pergi dari dunia ini. Tapi valen ? aku masih ingin melihat senyuman manisnya. Senyuman yang sekarang mulai hilang. Mama.. aku rindu mama, aku butuh mama.
Kaki ini melangkah dengan pelan, dengan penuh kelemahan. Wajah manis Valen terbayang-bayang di pikiran ini. Mataku mulai menyipit. Aku berjalan tanpa memperhatikan jalanan. Dan begitu ada cahaya menyilaukan mata ini. Saat itu juga rasanya tubuh ini tak sanggup lagi menahan sakit yang teramat dalam.
****
Dimana aku sekarang ? Ayah, benarkah itu Ayah ? Lalu siapa orang yang terbujur kaku di hadapan ku saat ini ? Apa itu Valen ? Aku mencoba meraih tangan Ayah. Aku ingin menenangkannya. Tapi.. Tidak. Tidak mungkin. Apakah itu aku ? Ku raih tangan Ayah sekali lagi. Mengapa tak bisa ? Tuhan, apa yang terjadi denganku ? Apa Aku sudah tiada?
Ayah. Akhirnya engkau memelukku. Terima kasih kau sudah mau memelukku. Meskipun Aku tak pernah bisa merasakan pelukan itu secara nyata. Tapi aku bahagia, semoga engkau tak pernah menyia-nyiakan Valen seperti engkau menyia-nyiakan ku.
Ayah.. akan selalu mencintai mu meskipun engkau selalu membuat ku kecewa. Karena ku tau engkau ingin melihat kami bahagia. Meskipun caramu salah. Tapi aku selalu mencintaimu, menyayangimu. Dan engkau selalu menjadi Ayah terbaik dalam hidupku.
Ayah.. Meskipun sekarang alam kita sudah berbeda, kuharap Ayah bisa mendengar bisikan ku. Ayah. Tolong berikan jantung ini untuk Valen. Aku ingin dia bahagia lebih lama bersama Ayah. Aku ingin dia merasakan kasih sayang dari mu yang selama ini tak pernah kurasakan setelah kematin ibu. Karena Aku akan bahagia jika kalian bahagia.

Comments

Popular posts from this blog

Event Hunter

Surat Cinta Anak Pesantren