Outdor Learning
Kali ini bakalan bahas soal Outdor
Learning (Belajar di Luar Sekolah). Kegiatannya hampir sama dengan Study
Tour sih. Tapi ga tau kenapa namanya beda, mungkin untuk membedakan
tingkatan. Di sekolahku tiap tahunnya mengadakan Outdor Learning dan Study
Tour. Outdor Learning untuk siswa kelas X(sepuluh) sedangkan Study
Tour untuk kelas XI(sebelas). Kebetulan di angkatanku, outdor learning
diadakan pada tanggal 28-29 Januari 2014. Tempat tujuannya adalah Yogyakarta.
****
(Part yang sebenanya tidak perlu dibaca, tapi ini bagian dari cerita)
Sore hari sebelum keberangkatan
kami berkumpul di lapangan sekolah untuk berdo’a, do’a dipimpin oleh Bapak Ali
Afandi selaku guru mapel Agama di Sekolahanku. Setelah itu kami pun menuju bus
masing-masing. Kebetulan kita dicampur dengan kelas lain, mungkin tujuannya
biar bisa membaur dengan siswa lain yang beda kelas. Gue ada di bus nomer 2,
yang isinya campuran siswa kelas XA-4 (Kelas gue), XA-2, dan X-Bahasa.
Pendamping di bus gue ada 3 guru, beliau Bapak Kholid, Ibu Indah, dan Ibu Siti
Handayani. Yang gue kenal di bus cuma Ibu Yani, karena beliau wali kelas gue.
Yang lainnya kurang tau.
****
Pagi di Yogyakarta, rombongan
kami sudah sampai di sebuah Masjid untuk melaksanakan shalat subuh. Di area
jalan sekitar masjid ada banyak sekali pedangan berjejer menjajakan barang
dagangannya. Ada gantungan, baju, sandal khas oleh-oleh Jogja. Aku segaja tidak
membeli disitu, karena ingin beli di Pasar Borobudur saja (karena harganya
memang lebih murah hehe). Kami melanjutan ke perjalanan berikutnya ke
Borobudur.
1.
Berkeliling di
Borobudur
Sebelum masuk area candi biasanya
pengunjung diberikan kain batik untuk dijadikan sewek (istilah jawa,
cara menggunakannya seperti menggunakan kain bali sebagai rok). Di area candi
borobudur, seperti pengunjung pada umumnya semua sibuk mengambil gambar dengan backround
candi-candi. Ada juga beberapa temanku yang mencoba menyentuh badan budha yang
berada di dalam candi. Mitosnya, apabila kita bisa menyetuh badan budha
tersebut keinginan kita akan terkabul.
Masih di area borobudur, jarang
orang yang tau bahwa di borobudur terdapat museum. Nama museumnya GUSBI (Galeri
Unik dan Seni Borobudur Indonesia). Tiket masuknya lumayan terjangkau, hanya 10
ribu rupiah. Di dalamnya ada banyak sekali karya-karya unik. Ada miniatur
borobudur, origami dengan ukuran yang sangat kecil, keris berukuran kecil, dan
benda benda lainnya yang ukurannya kecil. Ada juga yang berukuran besar;
seperti wayang-wayangan dan baju batik terbesar di Indonesia. Kita juga bisa
menyaksikan pemutaran audio visual film dokumentasi saat meletusnya gunung
merapi pada tahun 2010. Yang tak kalah menarik, kita bisa berinteraksi dan
berfoto dengan manusia kerdil di museum ini.
Setelah keluar dari area
borobudur kita akan menjumpai pasar, berbagai kebutuhan oleh-oleh ada disana.
Ada kaos Jogja, baju batik, aksesoris, sandal, kerajinan, sampai makanan khas
Jogja. Bagi wisatawan disarankan untuk berbelanja disini, selain harganya
terjangkau dan bisa ditawar kita juga bebas memilih karena banyak sekali orang
yang berjualan.
2.
Gagal ke Malioboro
Setelah keluar dari borobudur
kami menuju bus untuk melanjutkan perjalanan ke malioboro. Aku dan beberapa
temanku hanya berjalan-jalan disekitar tempat pemberhentian bus. Karena untuk
ke malioboro kami harus menaiki becak dari tempat pemberhentian bus. Sementara
waktu kami sangat terbatas. di perjalanan ada orang menggunakan pakaian hantu.
Itu cara unik mereka untuk mencai uang, biasanya bayarnya seikhlas kita. Banyak
orang yang tertarik untuk berfoto, termasuk saya dan teman saya.
3.
Mengunjungi Sentral
Batik
Perjalanan Outdor Learning
dilanjutkan ke sentral pembuatan batik di sentul, Yogyakarta. Namanya “Sentral Batik
Ya Halwa”. Disana ada dua macam cara pembuatan batik. Cara pertama membatik
secara manual, cara ini dilakukan dengan mengambil lilin yang sudah dipanaskan di
wajan dengan canting. Kemudian menorehkan pada kain yang sudah di siapkan. Cara
kedua menggunakan teknik cap. Biasanya sudah disediakan cetakan-cetakan
berbagai pola batik. Kita tinggal mencelupkan pada lilin kemudian tinggal cap
pada kain. Setelah desain pada kain siap, langkah selanjutnya pada pewarna
paikaian yang sudah dididihkan. Tujuannya agar lilin bisa mengelupas dan bisa
bmenjadi corak batik. Setelah itu proses penjemuran atau pengeringan. Di
sentral batik ini terdapat tempat yang suhunya sangat panas, yang berguna untuk
proses pengeringan. Sekitar 5-10 menit, kain batik pun sudah kering dan bisa
dibawa pulang utuk kenang-kenangan.
4.
Pantai Parang
Teritis
Parang teritis
adalah pantai yang sangat terkenal di Jogja. Awalnya memang ingin menikmati
sunset di pantai ini. Tapi ternyata matahari lebih dulu terbenam sebelum kita
sampai di pantai. Kami menyempatkan makan di sini. Makanan disini banyak yang
manis, tidak sesuai dengan lidah orang jawa timuran yang notabenya suka makanan
asin dan pedas. Pantai sudah gelap, sehingga kami hanya sebntar saja disini.
5.
Bakpia Patok
Bus berhenti di
salah satu pusat oleh-oleh di Jogja. Nama pusat oleh-olehnya “Bakpia Patok 99”.
Belum lengkap rasanya ke Jogja tanpa membeli bakpia patok. Roti ini adalah roti
khas Jogja. Kami banyak berburu bakpia patok. Di pusat oleh ini tidak hanya
menyediakan bakpia patok, tapi banyak makanan dan oleh-oleh lainnya.
****
(Part yang
sebenanya tidak perlu dibaca, tapi ini bagian dari cerita)
Selesai sudah perjalanan Outdor
Learning kami. Kami melanjutkan pulang kembali ke Gresik. Tak sampai disitu, di
perjalanan menuju pemberhentian untuk sholat jama’ Maghrib dan Isya’ ada tragedi
di bus 6. Bus tersebut mogok dan ada banyak asap keluar dari bus itu. Semua
siswa yang ada di bus tersebut di pindah alihkan ke bus-bus lain, karena tidak
ada bus ganti. Sehingga pejalanan pulang pun terhambat. Tapi akhirnya kami
sampai sekolahan dengan selamat.
Comments
Post a Comment