Takdir Cinta
Lembayung
senja yang mewarnai langit, ombak pantai yang bergejolak tak beraturan serta
angin yang berhembus perlahan, masih setia menemani langkah kaki perempuan
berkerudung putih yang tampak memiliki beban kehidupan. Deraian air mata
mengalir begitu saja tanpa ada tangan yang mengusapnya atau sehelai kain yang
menyekanya. Dibiarkan air mata itu kering dengan sendirinya diterpa angin laut
yang berhembus semakin kencang. Tak ada niatan dihatinya untuk meninggalkan
tempat ini meskipun hari sudah semakin gelap.
Diputarnya
kembali ingatan tentang kenangan masa lalu. Kenangan yang penuh kebahagiaan,
yang seiring berjalannya waktu kebahagiaan itu berubah tak seperti yang
diharapkan. Kehilangan orang yang disayangi memang tak mudah. Apalagi seseorang
yang paling berharga dalam hidupnya. Sungguh sebuah beban yang menancapkan luka
yang mendalam.
Perempuan
berkerudung putih itu bernama Najmi Zharana. Satu minggu yang lalu dia
kehilangan orang tuanya karena sebuah kecelakaan. Beginilah takdir, akan selalu
berjalan meskipun tak diperintahkan. Hari ini bertepatan dengan hari ulang
tahunnya. Tahun sebelumnya orang tuanya selalu mengadakan syukuran untuk
memperingatinya. Tapi kali ini semuannya hanya tinggal kenangan.
Izzha
masih bertahan dikedinginan pantai saat ini. Dia tak ingin beranjak meskipun
hari mulai gelap. Karena menurutnya, hanya tempat ini yang mengerti perasaannya
saat ini. Dia berhenti dan matanya tertuju kearah air pantai yang tak terlihat
biru lagi dimakan kegelapan malam. Tiba-tiba suara teriakan seorang lelaki
memanggilnya, tapi dia tetap kokoh ditempat dia berdiri saat itu. perempuan itu
berlari menghampirinya. Dan membujuk Izzha untuk pulang.
“Zha,
pulanglah! Jangan menyiksa dirimu dengan cara seperti ini.”
Izzha
hanya menggeleng kepala. Tanpa menjawab suara sedikitpun.
“Relakan
orang tuamu pergi Zha. Masih ada Aku, Aiyra, orang tua Aiyra dan orang tuaku
yang akan selalu menyayangimu Zha. Pulanglah! Mereka semua menghawatirkanmu.”
Butiran
bening mengalir deras dari kelopak matanya. Izzha mencoba mencurahkan semua
penderitaan yang ia rasakan saat ini, pada sahabat kecilnya Azhar. Izha berusaha
menceritakannya, tapi seolah hanya air mata yang bisa berbicara. Butiran bening itu mengalir tanpa
jeda. Membuatnya menjadi sesenggukan, sehingga sulit baginya untuk berkata.
“Sudah,
jangan dipaksakan Zha. Tenangkan diri dulu”
Izzha
mencoba menenangkan dirinya. Tapi seketika semua yang ada di pandangannya
menjadi buram dan seketika pula dia tergeletak tak sadarkan diri. Azhar panik
melihat sahabatnya tiba-tiba tak sadarkan diri. Tanpa berpikir lama, dia
mengendong Izzha dan segera membawanya pulang.
****
Sang
fajar menampakkan wajahnya. Cahaya fajar masuk melewati celah-celah jendela
kamar Izha dan berhasil membangunkan Izzha dari ketidak sadarannya. Saudara
perempuannya Aiyra yang dari semalam menunggun dimakarnya akhirnya menemui kelegaan.
“Kamu
sudah sadar Zha ? Minumlah air putih ini, biar badanmu lebih segar.”
“Bagaimana
bisa aku di rumah Ra ?”
“Kata
Azhar kamu menangis di pantai sampai pingsan. Azhar membawamu pulang. Mengapa
sampai seperti itu Zha ? Apa kamu masih memikirkan kepergian Ibumu ?”
Izzha
hanya mengangguk tanpa suara. Aiyra tak ingin melihat saudaranya bersedih lagi,
dia lalu memberikan sebuah bingkisan kado sebagai hadiah ulang tahun Izzha.
“Izzha,
ini ada kado dariku dan Azhar. Kemarin dia sudah nyiapin kejutan buat ulang
tahun kamu, tapi semua tak berjalan sesuai rencana.”
“Maaf
sudah mengecewakan kalian, terima kasih yah, udah berusaha buat aku bahagia.”
“Boleh
aku berbicara, soal Azhar ?”
“Iya
aku akan mendengarkannya Ra.”
“Azhar
sahabat kamu dari kecil kan ? Sikap dia begitu baik padamu, sampai-sampai
kemarin dia yang paling banyak mengurusi kejutan untukmu. Apa ada perasaan
cinta diantara kalian ?”
“Tidak.
Hubungan kami hanya sebatas sahabat saja, tidak lebih. lagi pula aku tak pernah
memiliki perasaan untuknya.”
“Syukurlah.
Karena aku mengkaguminya, lebih dari sebuah kekaguman, aku menyukainya. Aku
selalu berharap dan selalu mencantumkan namanya disetiap do’aku agar suatu saat
nanti dia bisa menjadi imam dalam hidupku. Aku mengharapkannya, sungguh sangat
mengharapkannya. Dan Abi sudah membicarakan hal ini dengan Ayah Azhar, Abi
Affan. Dan Abi Affan setuju dengan perjodohan ini.”
Deep..
Seperti terlempar dari lantai teratas gendung pencakar langit, hati Izzha
terasa pecah berkeping-keping mendengar pernyataan Aiyra. Sebenarnya Izzha
mencintai Azhar lebih dari sosok sababat. Tapi itulah Izzha, karakternya yang
tertutup membuatnya harus menyembunyikan rasa cinta itu sendiri.
****
Jalanan
kampus yang lumayan ramai dengan beberapa mahasiswa yang sibuk dengan tujuannya
masing-masing, sementara Izzha duduk menyendiri di bangku taman kampusnya. Pikirannya
terarah keberbagai hal. Tentang Ayah Ibunya, tentang masa lalunya, dan tentang
cintanya. Lamunannya buyar saat terdengar teriakan suara yang memanggilnya.
Izzha mencari titik suara itu. Ternyata itu adalah Rafa, teman akrabnya di
kampus.
“Belakangan ini kamu sering banget menyendiri.
Kenapa ?”
“Tidak.
Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin menenangkan diriku.”
“Aku
ingin melihatmu tertawa dan bercanda bersamaku seperti biasanya. Beri aku
kesempatan untuk bisa membuatmu ceria seperti dulu lagi.”
Pria
dengan sejuta kekonyolan memperagakan berbagai tindakan lucunya untuk membuat
teman akrabnya ceria seperti hari-hari biasanya. Izzha yang melihatnya tak
mampu menahan tawa karena tindakan Rafa yang begitu konyol. Rafa tertawa
bersama Izzha.
“Rafa,
aku mau tanya sesuatu ke kamu. Boleh ?”
“Aku
akan menjawab semua pertanyaanmu sahabat.” Lagi-lagi dia menciptakan kekonyolan
dengan nada bicaranya.
“Jika
kamu mencintai seseorang, namun seseorang itu akan menjadi milik orang lain.
Apakah kamu masih tetap mencintainya ?”
“Aku
akan tetap mencintainya dan memperjuangkannya. Karena belum ada ikatan yang
sesungguhnya diantara mereka. Jika memang sudah ada ikatan diantara keduanya,
disitulah perjuanganku akan berhenti, dan aku akan berusaha keras
melupakannya.”
“Berarti
tentang masa lalumu itu, kau masih mencintainya dan mengharapkannya menjadi
takdirmu. Tapi bukankah dia tak pernah tau bahwa kau mencintainya ? Dan apakah
kamu yakin dia juga mencintaimu ?”
“Iya,
aku masih mencintainya. Tapi aku tak begitu yakin dengan perasaannya. Terlebih
lagi sudah hampir lima tahun aku tak bertemu ataupun sekedar berkomunikasi
dengannya. Tapi aku yakin sesuatu yang sudah ditakdirkan menjadi hak kita,
Allah tidak akan membiarkannya menjadi milik orang lain. Takdir hanya berbicara
soal waktu dan kekuatan do’a. Seberapa kuat kita menerjang sang waktu dan
seberapa banyak kita berdo’a untuk takdir yang sesungguhnya.”
“Aku
sangat beruntung memiliki sahabat sepertimu Rafa, kamu selalu berhasil
membuatku bahagia ditengah kesedihanku. Kamu selalu memberikanku solusi terbaik
dari setiap permasalahnku. Terima kasih Rafa.” Ucap Izzha, lalu butiran bening
menetes begitu saja.
“Mengapa
kau menangis Izzha ? Hapus air mata mu, mintalah kepada-Nya. Karena hanya
Allah-lah tempat mengadu yang paling amanah, dan Dia akan memberikan jawaban
tebaik disetiap do’amu Izzha. Mari ku antarkan kau untuk sholat, agar hatimu
lebih tenang.”
Mereka
berjalan menuju masjid kampus yang letaknya tak begitu jauh dari tempat mereka
sekarang. Sesampainya di masjid mereka berdua mengambil wudhu dan menunaikan
sholat sunnah berjama’ah. Selesai sholat Izzha berdo’a dihadapan sang pencipta.
“Ya
Allah, maafkan diri ini yang tak pernah bisa menjauh dari angan tentangnya,
yang lebih banyak mengingatnya daripada mengingat-Mu. Maaf bila diri ini tak
mampu menjaga hati untuk takdir dari-Mu dan terlalu mengharapkannya sebagai
takdirku. Wahai Tuhan pemilik segala cinta, hadirkan pada hidupku, seseorang
yang bisa membawaku untuk lebih mencintai-Mu. Aamiin ya Rabbal’alamin”
Biarkan
sang waktu menjawab semua do’a dari semua makhluk ciptaan-Nya. Karena akan ada akhir
yang indah disetiap perjuangan hidup manusia, selama jiwa manusia itu selalu
khusyuk pada-Nya dan tak henti untuk meminta.
****
Detik demi detik terlalui. Hari demi hari telah
berganti. Tahun demi tahun telah beralih. Dua minggu lagi, Azhar dan Aiyra akan
melangsungkan pernikahan. Meskipun undangan belum disebar, tetapi
pelaksaanaanya sudah pasti. Tapi sampai saat ini, perasaan Azhar tak pernah
bisa berubah. Tak pernah sedikit pun dia mencintai Aiyra. Tapi disisi lain
Aiyra begitu mencintai Azhar, meskipun masih ada beberapa serpihan-serpihan
tentang masa lalunya yang masih melekat erat di memori ingatannya. Lalu
bagaimana dengan perasaan Izzha ? Mungkinkah dia bisa melupakan seseorang yang
selalu hadir disetiap do’anya ? Biarkan waktu menjawab semuanya.
Semua persiapan pernikahan telah disiapkan.
Bahkan Izzha yang tak pernah menginginkan ini juga harus ikut campur tangan
mempersiapkannya.
“Izzha aku butuh gunting. Apa kau punya
gunting, guntingku hilang.” Tanya Aiyra yang begitu sibuk dengan dekorasi acara
pernikahannya.
Aiyra langsung menuju kamar Izzha. Sesampainya
di kamar Izzha, Aiyra membongkar loker-loker lemari Izzha untuk mencari barang
yang dibutuhkannya. Secara tidak sengaja Aiyra melihat sebuah bingkisan yang
sepertinya pernah ia kenal. Aiyra penasaran dengan bingkisan itu, dan ternyata
itu adalah bingkisan kado darinya dan juga dari Azhar yang pernah ia berikan
untuk Izzha. Kado itu masih terbungkus rapi, dan belum dibuka Izzha sama
sekali. Aiyra yang begitu penasaran dengan isi kado dari Azhar akhirnya
menekatkan diri untuk mengambilnya.
Diambilnya kado itu dari loker Izzha, dia tak
sengaja melihat buku diary milik Izzha dibawah kado itu. Aiyra mengambil kado
sekaligus juga buku diary Izzha, lalu buru-buru dia meninggalkan kamar Izzha
karena takut Izzha mengetahuinya.
Halaman demi halaman buku diary itu dia buka.
Hanya ada sebuah cerita yang biasa, tetapi yang dia herankan, mengapa sedari
tadi dia hanya membaca cerita tentang kebersamaan Izzha da Azhar. Kemudian
Aiyra berpikir untuk langsung menuju beberapa halaman terakhir tulisan itu. Dia
tercenggang membaca isi hati Izzha yang dituliskan dibuku itu. Dia menangis
sejenak sebelum akhirnya membuka kado Azhar. Begitu rapuhnya Aiyra saat membaca
surat yang terselip di kado itu.
Buru-buru Aiyra mengusap air matanya, dia
berjalan menuju ruang tamu untuk menemui Izzha, dengan membawa diary dan kado
Azhar. tetapi Izzha tak ada di ruang tamu. Langkahnya kemudian beralih menuju
kamar Izzha. Tanpa mengetuk pintu Aiyra masuk begitu saja.
“Ayira, apa ada sesuatu yang kau butuhkan lagi
?” Tanya Izzha kepada Aiyra. Tapi Aiyra justru memberikan sebuah surat kepada
Izzha. Izzha membaca isi surat dari Azhar itu.
“Dari mana kau dapat surat ini Izzha ? A..Aku
tidak tau apa maksud surat ini.“ Tanya Izzha dengan suara terbata-bata.
“Itu surat yang terselip di kado Azhar
untukmu, kado yang tak pernah kau buka sama sekali. Dan itu ungkapaan perasaan
Azhar untukmu. Apa masih belum jelas Zha ? Ku mohon jangan berpura-pura
kepadaku.” Kali ini nada bicara Aiyra meninggi. Izzha kebinggungan mencela pernyataan
Aiyra.
“Tapi, Aku sama sekali tak mencintai Azhar.
Dia calon suamimu Aiyra.”
Tubuh Aiyra berhamburan memeluk Izzha. Dia
menanggis sejadi-jadinya.
“Mengapa kau tega membohongiku. Mengapa kau
tega membohongi peasaanmu sendiri. Mengapa Zha ? Mengapa ? Aku memang mencintai
Azhar, tapi kau lebih dulu mencintainya. Aku tau perasaanmu ke Azhar bukan
sekedar sahabat, tapi kau mencintainya Zha. Kalian saling mencintai, tapi
mengapa kalian tak pernah menyadari ini. Menikah lah dengan Azhar, aku rela
melepasnya. Karena aku ingin dipernikahanku nanti semua orang bahagia, bukan
malah sebaliknya.” Aiyra berbicara dilumuti sebuah tangisan. Tak sengaja Izzha
juga menangis mendengar ucapan Aiyra.
“Lalu bagaimana dengan orang tuamu dan orang
tua Azhar ? Aku tak ingin mengecewakan mereka.”
“Aku Akan bicara dengan mereka.”
****
Hari ini adalah hari bersejarah bagi Azhar dan
Izzha, mereka akan melangsungkan resepsi pernikahan. Dan semua perjuangan Izzha
mempertahankan cintanya, kini telah menemui sebuah kebahagiaan. Tak ada
kesedihan di hari ini, hanya ada sebuah kebahagiaan dan air mata. Tetapi bukan
sebuah air mata kesediahan, melainkan air mata yang menetes karena bentuk
kebahagiaan yang tak bisa terlukiskan oleh sebuah kata-kata.
“Aku bahagia bisa menikah denganmu istriku.”
“Aku justru lebih bahagia lagi suamiku. Karena
Sang Maha Cinta telah menghadirkan kepadaku seseorang yang benar-benar akan
membawaku menuju cinta dalam naungan Ridho-Nya.”
“Dan aku juga sangat berterima kasih
kepada-Nya. Karena Dia telah menghadirkanmu sebagai takdirku.”
Mereka begitu bahagia di hari pernikahannya.
Begitu juga Aiyra, dia sangat bahagia. Karena dia menemukan pengganti Azhar. Orang
itu adalah Rafa, yang tak lain adalah orang yang diam-diam mencintainya dan
selalu mengharapkannya meski jarak yang tak pernah mempertemukan mereka dalam
kurun waktu yang begitu lama. Namun kini, mereka bertemu dan Rafa mengungkapkan
persaannya. Serta berniat untuk menikahi Aiyra.
Satu bulan kemudian, Aiyra menikah dengan
Rafa. Seseorang yang namanya tak pernah tersebut didalam do’a Aiyra. Namun dia
adalah seseorang yang diam-diam selalu menyebut nama Aiyra disetiap do’anya. Dan
kini, takdir menyatukan hati keduanya. Mungkin ini jawaban terbaik dari Sang
Illahi atas semua do’a-do’a hamba-Nya.
Beginilah jalan sebuah cinta, akan indah
akhirnya jika kita mampu mempertahankan perasaan kita untuk orang yang kita
cintai tanpa melukai perasaan orang lain. Jika kita tak dibersamakan dengan
seseorang yang namanya selalu kita sebut dalam do’a, mungkin kita akan dipersatukan
dengan orang yang diam-diam menyebut nama kita di setiap do’anya. Dan kekuatan
sebuah do’a akan mampu mengantarkan kita pada takdir cinta yang sesungguhnya.

Comments
Post a Comment