Pengalaman Mengajar di Somalia Comunity School - Malaysia


Ini adalah pertama kalinya aku mengajar di luar negeri. Tentunya bukan hal itu yang membuat aku merasa terkesan dan bangga, tapi antusiasme anak-anak somalia yang ingin belajar banyak mengenai Indonesia yang membuat ku merasa demikian. Bagaimana tidak, mereka yang bukan berasal dari negara Indonesia tapi mereka sangat tertarik dengan keragaman Indonesia dari mulai budaya hingga bahasa.
Di hari pertama, aku dan beberapa rekanku yang kebetulan satu tim mengajarkan materi ke Indonesiaan. Awalnya tidak semua anak tahu dan mengenal Indonesia karena memang mereka bukan berasal dari Indonesia atau negara tetangga Indonesia. Namun hal itu tidak mengurangi semangat kami untuk mengajari mereka. Apalagi rekanku yang sebut saja namanya kak Ariza, dia begitu antusias sekali memberikan wawasan kepada anak-anak disana.
Kami mencoba memperkenalkan negara kami tercinta, Indonesia. Memberikan beberapa informasi seperti kapan hari kemerdekaan Indonesia, warna bendera Indonesia (merah putih) dengan penggambaran dan warna yang benar  tentunya tidak terbalik seperti isu yang sedang marak belakangan ini. Kami memberikan wawasan mengenai pulau-pulau di Indonesia terutama pulau besar dan beberapa pulau-pulau yang indah selain Bali. Memperkenalkan beberapa tari tradisional, permainan tradisional, baju tradisional, serta makanan tradisional.
Hari pertama mengajar, kami menggunakan batik sehingga kami memperkenalkan beberapa model batik yang ada di Indonesia melalui batik yang kami gunakan. Ada salah seorang anak perempuan yang memujiku. “Your dress is beautiful, that same beautiful with you” Waahh.. rasanya ingin ku beri hadiah ketika anak itu berkata seperti itu. Anak-anak selalu polos, mereka jujur. Entah, kalimat itu membuatku ingin lebih berlama-lama mengajar disana.
Kembali ke kegiatan mengajar, kami memperkenalkan gethuk (makanan khas Jawa Tengah) yang kebetulan rekan saya yang berasal dari Jawa Tengah membawanya. Mbak Vera namanya, sengaja ku panggil mbak karena dia orang Jawa. Mbak Vera adalah orang terniat dengan segala barang bawaannya. Bukan hanya membawa gethuk saja tapi juga sudah disiapkan gantungan batik khas Malioboro. Setelah selesai materi, kami membagikan gethuk untuk anak-anak di sana. Mereka berkata bahwa makanan itu (re: gethuk) enak.
Hari kedua mengajar Aku, Kak Fanisha, Kak Ariza dan Fuad (re: kami satu tim) mencoba mempraktikkan tari dan permainan tradisional untuk anak-anak yang sudah kami perkenalkan di hari sebelumnya. Urusan tarian tradisional diserahkan kepadaku dan kak Fanisha, waktu itu kami memilih tarian gundul-gundul pacul untuk diajarkan kepada anak-anak. Selain tarian ini cocok untuk anak-anak tarian ini juga tergolong tarian yang mudah dihafalkan gerakannya. Hehe. Kami mengajak anak-anak untuk mengikuti tarian dan permainan dari kami. anak-anak perempuan begitu antusias dan ikut menari bersama kami. Bahkan ketika lagu pengiring tarian sudah selesai mereka minta untuk diputar kembali. Kami berganti ke permainan tradisional
Kami juga mengajarkan beberapa kalimat yang sering diucapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam bahasa Indonesia. Seperti, “selamat pagi”, “sampai jumpa”, “apa kabar?”, “terima kasih” dan kalimat-kalimat lainnya. Antusiasme anak-anak dalam belajar segala hal tentang Indonesia berhasil membuat rasa lelah kami terbayar dengan kebahagiaan. Saya belajar banyak dari mereka. Semangat mereka dalam belajar tidak terbatas, meskipun fasilitas tempat dan peralatan yang kurang namun antusiasme mereka begitu tinggi untuk belajar. Hal itu yang membuat program ini terasa berkesan dan tentunya juga di rindukan untuk kembali mengajar disana lagi.

Comments

Popular posts from this blog

Event Hunter

Surat Cinta Anak Pesantren

14 Februari