Kampus itu tempat berlatih. Masyarakat medan tempurnya
Mahasiswa. Para calon pemimpin bangsa katanya. Berbagai kepanitiaan dan kepengurusan mereka jalani, untuk besarnya nama mereka. Berbagai pelatihan leadership mereka laksanakan untuk mendapatkan pengetahuan tentang kepemimpinan, untuk bisa menjadi Agent of Change di masa depan katanya. Berapa banyak yang membesar di kampus, tapi mengecil di masyarakat. Menjadi jagoan di kampus, menjadi sandera di masyarakat. Menjadi paling terkenal di kampus. Tapi tak kenal dengan tetangganya. Kampus itu tempat berlatih, masyarakat medan tempurnya. Jangan terbalik.
Anda aktivis BEM? HMJ? UKM? Pecinta Alam? Tanyakan pada dirimu: Jadi apa di masyarakat? Anda aktif di ROHIS? Senior di lembaga da'wah kampus? Tanyakanlah : Seberapa kenal dengan para jama'ah di Mushola/Masjid di sekitar anda. Anda sekretaris BEM, Aktivis organisasi atau jago bikin event di kampus? Coba ingat-ingat : Pernahkah membuat proposal untuk acara desa? Pernahkah berkeliling door to door meminta sumbangan untuk acara desa? Setidaknya pernahkan tergabung dalam kepanitiaan di desa?
Ukuran kontribusi tidak selalu dimulai dari hal-hal besar. Tapi bisa jadi hal sederhana dan mendasar. Masyarakat disekitarmu tak butuh kamu membuat acara megah nan mewah, cukup menggelar acara 17an saja mereka sudah bangga. Masyarakat disekitarmu tak butuh kamu menggelar kajian tiap bulan, cukup membantu mereka menggelarkan karpet sholat taraweh di Masjid/Mushola saja sudah berbuah pahala.
Mari berjanji untuk lebih mengenal para tetangga. Lebih aktif di masyarakat. Lebih akrab. Lebih dekat dengan orang orang di sekitar kita. Berjanjilah, jika kau adalah aktivis mahasiswa yang hanya pulang beberapa bulan sekali atau pulang selalu larut malam. Jadikanlah keberadaanmu di rumah adalah cahaya bagi masyarakat. Sesampainya kau di rumah, keluarlah. Berbaurlah. Kunjungi keramaian. Tegur sapalah. Bertanyalah. Bergabunglah. Turut serta. Kehadiran kita yang sesaat bisa jadi berharga bagi tetangga dan masyarakat. Kesertaanmu yang sebentar bisa jadi penuh makna bagi mereka.
Orang-orang besar, dimanapun tetap berperan besar. Orang-orang kecil, berperan hanya sewaktu-waktu. Orang luar biasa, turut serta, mengambil peran dan berkontribusi dalam situasi dan kondisi luar biasa. Pengangguran yang sibuk dan peduli dengan tetangga lebih baik daripada aktivis kampus, motivator, penulis, jagoan sosial media yang sibuk dengan diri sendiri.
Jangan salah, aktivis karang taruna lebih disayangi tetangga dibanding aktivis kampus yang tak peduli dengan kampung halamannya. Lulusan SD yang aktif di kegiatan masyarakatnya, lebih berarti dari lulusan sarjana yang hanya sibuk ikutan kompetisi karya tulis tanpa memberikan sumbangsih terhadap kemajuan daerahnya.
Mari, masih tersisa banyak waktu untuk KEMBALI PULANG ke masyarakat, ke rumah mu yang sesungguhnya. Saat kau melakukan itu, saat itu kita memahami makna dasar kepemimpinan. Semua bermula dari sini, dari titik terkecil.
Terinspirasi dari Pesan Seorang Pemimpin Kelurahan
Surabaya, Januari 2018

Comments
Post a Comment